Kamis, 26 Januari 2017

I can't stay here as long as i can

"I wanna stay here as long as i can". Dulu. Itu yang sering saya katakan. Tapi pernah nggak sih kita berfikir dunia itu sangat-sangat-sangat luas dan tidak terbatas ?


Saya pernah terperangkap dalam dunia "nyaman" versi saya, 6 tahun. Saya tidak bisa mengeksplore diri saya, mengeksplore potensi dan kemampuan saya. The reason is karena saya selalu mengikuti kemanapaun "pacar" saya pergi, saat itu. That's a bad habit, jangan ditiru.

Jadi begini, saya dan pacar saya waktu itu menghabiskan masa remaja hingga kuliah bersama. Kemanapun dia pergi pasti saya ikut, termasuk tempat kuliah saya sekarang ((sekali lagi, ini tidak baik untuk ditiru)). Saya nyaman bersama dia, saya merasa benar-benar dilindungi, as a girlfriend-as a sister-and as his mother too. So, what's the problem ?.

Yes! saking sayangnya saya sama dia, saya berusaha untuk selalu ada disamping dia. Dimanapun, dan Kapanpun.

Selama kurun waktu 6 tahun itu, saya selalu menjadi "bayangan" dia, saya selalu memposisikan diri saya sebagai the one and only buat dia. Even selama itu pula saya dibohongi ribuan kali dalam banyak hal, termasuk saat dia cheat dengan perempuan lain. Tapi bodohnya ? saya masih bisa terima itu semua, mau untuk memaafkan dan kembali. Ini permasalahannya. Idk what's wrong with me saat itu. Disaat orang-orang terdekat saya ribuan kali bilang saya bodoh, tapi saya tetap keu-keuh pertahanin.

Sampai akhirnya, saya sadar harus keluar dari "zona nyaman saya" dan kami berdua memutuskan untuk meyudahi hubungan ini karena beberapa sebab. Satu nasihat yang selalu saya ingat "Allah sudah nunjukin dari lama kalau dia bukan yg terbaik untu kamu, tapi kamu ngga mau ngelak. Sekarang kembali sama kamu. Mau stay atau move jadi orang yg lebih baik".

 Awalnya saya kira ini akan berat.Saya pikir mungkin saya akan berlarut galau setahun lamanya. Ternyata ? TIDAK. Tidak seberat yang saya  bayangkan. Kuncinya ? Ikhlas. Memang tidak semudah yang kita bayangkan, tapi saya percaya tuhan itu sangat-sangat baik. Disaat saya mulai stumbling dalam kegalauan saya, mamah saya selalu berkata "tanya pada tuhan".

And guess what i get ? saya bisa dengan mudah untuk merelakan. Merelakan,bukan melupakan :). Pelan-pelan saya belajar untuk berdiri lagi, meskipun dipertengahan itu saya mendapat banyak cobaan. Saya diuji dengan "hate" orang-orang baru yang notabane-nya saya tidak tahu siapa mereka, dan tanpa tau salah saya apa. Tapi, saya memilih untuk diam walaupun mereka masih berlanjut, sampai saat ini.

Pelan-pelan saya belajar untuk mengeksplore potensi saya. Pada saat itu saya berfikir, saya punya waktu dan kesempatan. Kenapa tidak saya gunakan dengan baik ?. Ternyata, dalam kurun waktu 2 bulan saja, saya bisa menjadi diri saya yang sebenarnya. Keluar dari zona nyaman saya yang lama. Merubah kebiasaan, perilaku, dan pola pikir saya. Sampai akhirnya saya memberanikan diri untuk maju dalam sebuah kompetisi, dan Alhamdulillah saat ini saya sedang mengemban tugas menjadi seorang tourism ambassador daerah saya, Situbondo. (InshaAllah akan saya ceritakan pengalaman ini di post saya selanjutnya )

Ini langkah kecil saya dalam berproses menjadi pribadi yang mandiri dan jauh lebih baik dari kemarin. Saya belajar menjadi pribadi yang lebih kuat menhadapai segala macam hujatan, ancaman, dan cacian orang diluar sana.
Guys, percayalah... tuhan itu selalu ada disamping kita. Tuhan selalu membuka pintunya untuk makhluknya, kapanpun kita butuh. Sekali lagi, keluar dari zona nyaman itu perlu untuk membiasakan diri kita hidup dikondisi yang tidak melulu memanjakan kita.

SEMOGA BERNFAAT BAGI KALIAN :))